EnglishFrenchGermanIndonesianItalian

Obat Generik Berlogo Bukan Murahan

    Kliksehat.co- Meski dari sisi harga obat generik berlogo (OGB) lebih murah dibanding obat branded atau bermerek, tapi soal kualitasnya tidak ada perbedaan antara keduanya. Nyatanya dari tahun ke tahun trend permintaan OGB terus meningkat.   

    Tarcisius T Randy, Head of Marketing and Sales OGBdexa, menjelaskan harga OGB lebih murah ketimbang obat bermerek karena harganya sudah ditetapkan oleh pemerintah, sehingga harganya pun terjangkau. Sekalipun begitu, tidak berarti bahwa OGB adalah obat murahan dan tidak berkualitas.  

    "Saat ini, masyarakat sudah semakin positif atau lebih kenal apa itu OGB. Bahkan, masyarakat sekarang sudah berani meminta untuk diresepkan obat generik," katanya saat ditemui dalam acara temu media dengan tema, 'OGB Sebagai Cara Hemat Untuk Sehat', di Jakarta, Kamis (28/6).  

    Lebih lanjut Tarci mengatakan trend pasar OGB terutama di Indonesia dari tahun 2009-2011 terus menunjukkan peningkatan hampir 23 persen. Bahkan kalau diperhatikan, pertumbuhan rumah sakit khususnya yang menggunakan OGB sangat agresif, mencapai 28 persen.   

    "Pertumbuhan pasar farmasi di Indonesia sebagian besar dari kontribusi pertumbuhan OGB. Pertumbuhan pasar OGB lebih tinggi dari pasar farmasi atau pasar obat di Indonesia," katanya.

     Melonjaknya permintaan OGB ini tidak terlepas dari telah dikeluarkannya Peraturan Menteri Kesehatan yang mewajibkan penggunaan OGB khususnya di puskesmas dan rumah sakit pemerintah.   

     Beberapa progam pemerintah, seperti Jamkesmas, juga mengharuskan penggunaan obat generik berlogo. "Beberapa rumah sakit swasta juga sudah banyak yang menggunakan OGB. Jadi, bukan hanya rumah sakit swasta yang menengah ke bawah saja, kelas atas juga sudah menggunakan OGB," cetusnya. 

     Menurut Tarcisius, meningkatnya permintaan OGB di rumah sakit swasta lebih ditujukan untuk pasien-pasien kelas tiga. Menurutnya, bila rumah sakit swasta tidak menyediakan OGB, biaya perawatan akan lebih tinggi sehingga besar kemungkinan mereka akan kehilangan pasien (terutama kelas tiga).  

     "Kalau rumah sakit atau pelayanan kesehatan menggunakan OGB, maka jumlah pasien yang dilayani bisa lebih banyak ketimbang mereka menggunakan obat branded," terangnya.  

     Tarcisius memprediksi, dengan ditetapkannya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang akan mulai berlaku pada 1 Januari 2014, permintaan OGB akan semakin meningkat. Hal ini karena untuk peserta SJSN obat yang digunakan adalah Obat Generik Berlogo (OGB). 

     Selain itu, total penduduk Indonesia saat ini diperkirakan 257 juta jiwa, baru 137,8 juta jiwa saja yang tercover asuransi pada 2013, sementara masih ada 119,2 juta jiwa yang belum tercover asuransi.
    "Ini jadi tantangan dan peluang kami bagaimana bisa mendapatkan atau meng-cover obat yang dibutuhkan masyarakat yang belum tercover asuransi," tutupnya.(any)